Kipas yang diputar oleh motor pada cooling pad mengarahkan angin ke atas tepatnya pada lubang udara di bagian bawah notebook kita. hal inilah yang memberikan dampak buruk pada notebook kita. Debu dan partikel-partikel kecil akan terangkat masuk ke dalam lubang-lubang udara dan menumpuk di dalam komponen notebook anda sehingga bisa mengganggu kinerja notebook anda.
Selain itu hembusan udara dari cooling pad justru akan mengganggu sirkulasi pada notebook. Hal ini dikarenakan udara panas yang seharusnya dialirkan keluar justru akan ditiupkan kembali ke dalam oleh kipad pada cooling pad. Hal ini bisa mengakibatkan rusaknya beberapa komponen pada notebook akibat kepanasan dan harus diganti.
Kutipan diatas adalah contoh mitos dari sejumlah mitos yang banyak beredar tentang penggunaan Cooling Pad pada notebook. Pertanyaannya, apakah anda salah satu yang mempercayai pernyataan tersebut diatas?. Sepintas, kedua pendapat diatas terlihat masuk akal dan cukup membuat kita yang sudah menggunakan Cooling Pad berfikir ulang sejenak. Sebelum anda jadi lebih galau, coba simak ulasan berikut ini.
Perlukah Cooling Pad?
- Ruang Kerja & Tingkat Komputasi
Bagi anda yang banyak beraktifitas dengan notebook, tentu mengenal Cooling Pad atau notebook cooler. Bisa jadi sebagian besar dari anda sudah menggunakannya. Untuk anda yang bekerja di ruangan ber-AC, seringkali menganggap bahwa menggunakan Cooling Pad pada notebook saat bekerja tidaklah perlu. Namun bagi anda yang bekerja di ruangan tanpa AC, apalagi aktifitas komputasi anda cukup berat, menggunakan Cooling Pad pasti pernah terpikir dalam benak anda. Yang perlu anda garis bawahi adalah, hardware yang bekerja terus menerus dalam temperatur tinggi semakin lama pasti mengalami penurunan kinerja. Ditambah sistem proteksi yang sudah banyak diterapkan pada hardware modern seperti chip CPU dan chip GPU yang secara otomatis mengurangi clock speed saat temperatur tertentu tercapai, Sistem komputer akan terasa semakin lambat. Dalam hal ini, kita sangat bergantung pada Sistem pendingin bawaan pabrik agar bekerja optimal mendisipasi panas secepat mungkin.
Ada beberapa pabrikan notebook yang seringkali di komplain penggunanya perihal temperatur yang cenderung cepat sekali panas. Setelah di teliti, ternyata permasalahan ada pada design layout yang kurang baik hingga menyebabkan udara panas dalam notebook sulit bersirkulasi. Baik dari penempatan komponen, maupun disain dari heatsink bawaan pabrik. Jika notebook anda salah satu yang membawa masalah ini sejak baru, berapa kalipun anda membersihkan cooling area atau mengganti pasta pada processor, penyakit panas yang cepat sekali naik akan segera kembali lagi.
Setiap komponen produk elektronik tak terkecuali notebook, pastinya mengalami penurunan performa kerja seiring masa pakai. Khususnya dibagian pelepas panas, masalah yang sering terjadi antara lain, Pasta yang mengeras, dan performa kipas yang menurun. Tidak masalah jika notebook yang kita pakai memiliki service center dan spare part yang jelas. Lalu bagaimana nasib notebook yang service centernya tidak jelas bahkan sudah tidak didistribusikan lagi di Indonesia?
Prinsip Kerja Cooling Pad
Sebelum kita membahas prinsip kerja Cooling Pad, mari kita singgung sedikit disain heatsink pada notebook sejak era Pentium 4. Kebanyakan notebook tersebut terutama yang ber-LCD 14″ kebawah, membuat ventilasi disisi samping yang berlawanan dengan letak Optical Disk Drive (ODD). Lebih seringnya disebelah kiri keyboard. Posisi ini umum dan diyakini menghemat ruang. Berbeda dengan notebook dengan LCD 15.6″ keatas yang memiliki banyak ruang di dalamnya hingga bisa membuat beberapa ventilasi termasuk di bagian belakang.

Slim notebook umumnya membekal ventilasi yang “slim” juga.

Dual Ventilation merupakan nilai plus jika hanya mengandalkan stock Cooling.
Pada konfigurasi standar, notebook dibekali beberapa lubang ventilasi sebagai jalan masuk udara segar dibagian bawah. Khususnya di sekitar komponen yang cenderung menghasilkan panas seperti RAM dan HDD. Karena kedua komponen ini sama sekali tak membekal active cooling, jadi pabrikan berharap pendingin terjadi dengan memberi jalan masuk udara disekitar kedua komponen ini.

Lubang ventilasi hisap yang umumnya ada pada notebook.
Berbekal prinsip kerja sirkulasi notebook diatas, para pabrikan Cooling Pad mendisain produk mereka dengan tujuan membantu dari luar agar sirkulasi udara dalam notebook lebih cepat dan lancar. Jadi bisa dikatakan, kedua mitos di atas salah persepsi. Logika yang paling mudah adalah, tanpa cooling pad, udara yang berputar di bawah notebook cenderung naik akibat suhu sekitar notebook yang panas. Udara yang diharapkan dapat membantu pendinginan, dari awal masuk sudah tidak lagi dingin dan segar. Berbeda jika Cooling Pad terpasang. Cooling Pad turut menjaga udara yang masuk ke notebook lewat bagian bawah tetap segar dengan mendorong udara panas kesamping notebook.

Cooling Pad air circulation diagram.
Kesimpulan
Menggunakan Cooling Pad merupakan pilihan bijak jika anda rasa kinerja pendinginan stock notebook tidak lagi optimal sebab ruangan kerja yang panas, beban kerja komponen tinggi, design layout internal yang kurang maksimal ataupun berkurangnya performa pendinginan karena usia pakai. Namun pilihlah Cooling Pad yang benar-benar memberi manfaat dalam arti, saat digunakan berhasil menekan temperatur menjadi lebih ideal. Untuk itu, perlu sedikit anda lakukan monitor sebelum menggunakan Cooling Pad dan setelah menggunakan Cooling Pad. Seperti yang kami lakukan dibawah ini.

Suhu saat idle dan full load yang terekam tanpa Cooling Pad.

Contoh Cooling Pad yang kami gunakan.

Suhu idle dan full load yang terekam dengan Cooling Pad terpasang.